Food, Germany, Housing, Indonesia

Grapefruit = Vampire Fruit?


Yes! I said that first!

Grapefruit, this naughty fruit, from times to times just continuously produced its bloodily disgusting ‘blood’. Those red liquids that kept pouring through your desk or -poorly- to your sleeping pijamas, which you wear everyday because you’re too lazy to wash it. Hello, don’t judge me, it’s just not that easy to move your ass downstairs just to put your clothes, wait for 1 hour  , taking all your washed clothes out, drying it out and…bla bla bla…MEN, INDONESIA KEEP EVERYTHING SOOOO SIMPLE!

OK, Indonesian mood. OH! Something just popped to my head!

Yang paling berasa selama idup di German (noted: 6 months so don’t blame me for the super-subjective-judgement) adalah….kenapa banget sih orang Eropa gabisa menikmati idup? Everything they did is because they HAVE TO do that. Lampu ijo, mobil kaga ada…keinginan menggebu gebu untuk lari dan menikmati glorious + top of the world feeling karena abis ngelanggar peraturan harus kandas gitu aja karena…GA ADA TEMENNYA BUAT LARI BARENG T.T biasanya kan kalo di Indo, pasti ada tuh pengamen, ibu ibu ato ga mbak – mbak mau ngantor yang ikutan lari – lari cepirit sebelum mobil datang dan menghalangi perjalanan kita. Tapi disini…mereka malah ngeliatin kita dengan tampang ” Let me see if you dare to cross this street before the light turns green “. Mesti diajak sekali kali nih mereka ke Indo, merasakan malapetaka sekaligus petualangan seru para pejalan kaki dalam mengalahkan kecepatan mobil. Mungkin mereka yang biasanya jalan kayak pake sepatu roda saking cepetnya, bakal jadi siput lelet karena harus nungguin lampu merah tiap mau nyebrang. HAHA you wish. Lampu merah mana yang masih bener aja kadang gw kaga tau.

Sama halnya kayak laundry, ato tukang fotokopi, ato delivery service makanan. Why oh why, mereka dengan uang mereka yang teramat banyak itu tidak menciptakan lapangan kerja yang sangat profitable ini? Apa mesti gw yang mulai (jadi pegawai)? Mungkin gw adalah wanita termalas di German (or if there are somebody else, hello my fellow friends!) tapi menurut gw ini lapangan kerja yang sangat penting loh. I miss Pak Muji yang dengan sigapnya langsung tau bahan ujian, fotokopi yang rapih, kita tinggal ambil dan melimpahi beliau uang + senyum cantik sekalian ngambil minum di dispenser (OH MEN I MISS DISPENSER…HOW ARE YOU MY FRIEND?  ARE YOU STILL HOT AND COLD?-azek). Kangen juga sama teteh kosan yang selalu sigap tiap pagi, tidak pernah absen walaupun terkadang gw nunggak bayar laundry qiqiqi, untuk nyuciin baju. Bagaimana caranya? Kita tinggal beli box baju, taro diluar kamar, kalo udah ngerasa baju yang kita pake tidak layak pakai + bau ato lo lagi males banget ngeliat tuh baju, lecek ato agak sedikit apek, tinggal taro aja di box itu. Niscaya besoknya…baju sudah terlipat rapih dan wangi. Oh i love you teteh…

dan kenapa ya di Eropa jaraaaaaang banget ada tukang kelontong? Abang gorengan ato apaan gitu. Apa mereka gasuka beli makanan diliatin orang? Apa mereka gasuka ada truk truk imut lewat lewat didepan rumah mereka + teriak teriak? Apa mereka diet? Apa mereka gasuka gerobak? Apa tadinya ada trus dibanished karena abang – abangnya capek nungguin traffic (i feel you, unknown abang-abang)? Hmmm….bisa nih jadi topik TA.

 

betewe, tadi gw mau ngomongin apaan sih? Jadi lupa. Perasaan tadi ngomongin grapefruit, kok sekarang abang gorengan? Ck.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s