Book, Father, Indonesia, Life, Review

Buku tentang Bapak


Setiap baca buku bagus, perasaan pengen nulis dan mempatenkan perasaan excited yang mirip kayak dikasih coklat satu box gede itu langsung membumbung tinggi.
Pensil, laptop, HP, tab, langsung saya cari, sebelum perasaannya “hilang”.
Orang yang duduk disebelah atau diseberang ruangan pun jadi sasaran empuk buat dicurhatin isi bukunya.
Sampe sering mereka suruh saya baca buku yang mereka pengen baca, terus saya ceritain ke mereka.
Mungkin mereka butuh “moment” ngetawain saya yang kalau cerita selalu tanpa alur dan penuh cekikikan.
Weird, but hey, that’s the fact I’ve been living.



2 tahun terakhir ini, demi mengejar target memperluas area baca, Saya nyoba baca beberapa buku yang tebelnya bisa bikin benjol.
Tapi entah kenapa yang berhasil ‘nyentil’ selalu buku sederhana yang tebelnya ga sampe 300 halaman.
Bahasanya ga ribet, ceritanya ga kompleks, tapi sukses bikin otak muter dan berpikir.
Pertama, Diary of Young Girl nya Anne Frank.
Kedua, A Monster’s Call nya Patrick Ness.
Ketiga, buku ini.
Emang bener ya, apapun yang dilakukan, ditulis, di capture pake hati, sesederhana apapun itu, pasti bisa dirasakan sama orang disekitarnya.
Happiness is contagious, kalo kata Paulo Coelho.



Back to the story, buku ini.
Kenapa Saya bisa segitu terjeratnya sama pesona buku ini?
Familiarity, mungkin alasan yang paling tepat.



Long story short, inti buku ini adalah tentang hidup 2 anak lelaki yang jatuh cinta sama Bapaknya, yang unfortunately, udah meninggal dari mereka kecil.
Familiar banget sama betapa “tergila-gilanya” 2 anak cowok ini ke Bapaknya.
Ketika kepribadian mereka dalam mengambil keputusan hidup itu bermuara dari pesan-pesan Bapaknya ke mereka.
Ketika mereka jadi terkesan pamer dengan achievement Bapaknya, padahal memang bagi mereka Bapaknya ya seluar biasa itu.
Ketika mereka inget gimana Bapaknya selalu push mereka buat bermimpi sampai mimpi itu diketawain orang banyak, tapi Bapaknya juga ga kalah tegas nyuruh anaknya untuk bikin rencana dan deadline hidup.
Ketika saking jatuh cintanya anak sama Bapaknya ini, hari Sabtu yang keramat bagi anak muda untuk ngumpul dengan anak-anak seumuran pun dengan senang hati didedikasikan buat punya quality time sama Bapaknya.



Buku yang ngingetin saya, kalo jadi orang tua itu ternyata susah ya, kisah hidupnya, kata-katanya, sampe marahnya pun jadi panutan buat anaknya.



Anyway, makasih banyak Mas Wisnu, si calon Bapak terbaik yang udah mau direpotin nyariin buku yang abis dimana-mana ini, ditambah harus dengerin bocah ini cerita malem – malem lagi.
Semoga dari 5 bulan kedepan sampai seterusnya bisa jadi Bapak yang selalu jadi inspirasi dan panutan anaknya, which surely I believe you’ll absolutely be 🙂



Mungkin ini tandanya udah waktunya saya cuti buat 2 orang terbaik sedunia di rumah Jakarta.
Dan hey, Adhitya Mulya, you’re missing a daughter character, who absolutely fell all over the heels to her father, just like me 😉

Advertisements
Standard

3 thoughts on “Buku tentang Bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s